Pelajaran untuk Vino
Pelajaran untuk Vino
Ilustrasi: hellosehat.com
Pagi yang cerah, anak-anak kelas IV sangat ceria. Sebelum bel masuk tadi mereka bermain congklak, ayunan, kejar-kejaran, lompat tali, bola bekel, kelereng, gobak sodor.
Setelah bel berbunyi, mereka berjajar rapi di depan pintu kelas. Ini juga dilakukan siswa kelas lain.
Ketua kelas IV, Azza, menyiapkan siswa sekelasnya. Baru kemudian mereka masuk kelas. Diikuti Bu guru.
Mereka tidak langsung belajar, tetapi berdoa, lalu membaca buku yang tersedia di Pojok Baca kelas. Bu guru mengawasi para siswa agar tidak terlalu gaduh.
Tak lupa Bu guru mengingatkan agar siswa mencatat informasi dari buku yang telah dibaca. Catatan informasi itu dikoreksi oleh Bu guru.
**
"Anak-anak, tadi kalian sudah berdoa dan membaca buku. Dengan itu kalian akan semakin banyak pengetahuannya."
"Ya, Bu guru."
Kemudian Bu guru mengabsen para siswa satu persatu. Bu guru tersenyum, semua siswa masuk hari ini. Artinya semua dalam keadaan sehat.
Bu guru lalu mengambil spidol dan berkata, "Siapkan buku ulangan ya, anak-anak. Kita akan ulangan Matematika!"
Banyak siswa yang kaget dan menggerutu. Apalagi Vino, si jago main bola.
"Yaaa ..kok ulangannya mendadak sih, Bu!" Protes Vino. Protes Vino disambut suara gaduh teman-temannya. Ada yang mendukung Vino, ada pula yang memprotes Vino. Pendukung Vino adalah mereka yang ikut kesebelasan sepakbola sekolah.
"Huuuuu… kamu tuh makanya belajar! Nggak cuma main bola terus!" Ejek Ciko.
Vino dan teman-temannya yang masuk kesebelasan sepakbola di sekolah memang jarang belajar.
"Sudah… sudah! Kemarin Bu guru kan sudah ingatkan kalau hari ini ulangan! Dan lagi, ulangan kan tinggal mengulangi pelajaran yang ibu sampaikan sebelumnya."
**
Vino dan teman-teman kesebelasannya terpaksa mengikuti ulangan. Tapi mereka merasa kesulitan dalam mengerjakannya.
Vino menengok ke kanan-kirinya. Sial! Semua temannya berkonsentrasi pada soal ulangan. Sementara dirinya tak satupun soal yang dipahami. Kalau teman kesebelasannya yang lain otaknya lebih encer daripada dirinya.
Tiba-tiba Vino memiliki ide. Ditendangnya kursi Azza yang tepat berada di depannya. Azza sangat terkejut karenanya. Azza termasuk siswa yang pandai di kelasnya.
Azza menengok sebentar ke belakang. Lalu kembali mengerjakan soal ulangannya. Tak lupa kursi dimajukannya. Biar Vino tak mengganggunya lagi.
Waktu terus berjalan, satu persatu siswa mengumpulkan pekerjaan ke meja guru. Tinggal Vino yang belum mengumpulkan.
Dengan wajah lesu, Vino menuju meja guru. Waktu ulangan telah habis. Jadi dia mengumpulkan pekerjaannya meski yang ditulis hanya diketahui saja. Tak ada angka hasil hitungan. Rumus matematika saja tak ada satupun yang diingatnya.
***
"Maaf ya, Vino. Aku tahu kamu tadi mau minta jawabanku kan?"
"Iya. Ternyata pelit kamu!"
Azza tersenyum. Teman-teman lain yang masih di kelas memerhatikan percakapan Azza dan Vino.
"Vino, kalau membantu belajar sih aku mau saja. Tapi kalau pas ulangan, aku nggak mau."
"Tuh... pelit!" Teriak Vino.
"Begini saja, setiap sore kalau tak hujan kita belajar bareng di rumah Intan ya! Kita belajar kelompok. Banyak kok temennya!" Ajak Azza.
"Tapi kalau sore aku berlatih sepak bola tau!!!"
"Kamu kan bisa bagi waktu. Kami biasanya belajar kelompok pukul 3-4 sore…"
"Oh...begitu ya? Berarti aku masih bisa berlatih sepak bola setelah belajar kelompok," ujar Vino.
**
Mulai hari itu, setiap sore Vino belajar kelompok dengan Azza dan teman-temannya. Teman kesebelasan lainnya juga ikut. Selepas itu Vino dan teman-teman latihan sepakbola.
Comments
Post a Comment