Santriwati Indent di SMP Ash Shiddiq

 Santri Indent di SMP Ash Shiddiq


Hari Minggu pagi, 14 November ini aku bersiap-siap untuk ke pondok pesantren Ash Shiddiq. Oleh ibu bapak, aku akan dimasukkan ke ponpes itu.


Oh iya, ibu dan bapak mendaftarkan aku lebih awal. Indent kata ibu.


Sebenarnya aku belum begitu paham tentang pondok pesantren. Meski di padukuhanku ada pondok pesantren juga. 


Kata Bulik aku ke pondok pesantren diantar budhe Ika. Kebetulan cuaca sedang hujan. Namun tak membuat ibu, Bulik, aku dan budhe menyerah. Allahumma shayyibannaafi'aa. Hujan adalah rahmat dari Allah yang tak terkira. Jadi harus disyukuri.


Aku mandi dan sarapan pagi di rumah Mbah kung. Kebetulan aku memang tidur di sana. Jadi, kutunggu ibu yang mengantarkan aku. 


Semula cuma ibu yang mau mengantarkan aku. Namun ternyata Bulik juga ikut. Ah...senaaang rasanya.

**

Setelah setengah jam perjalanan, kami sampai juga di pondok pesantren Ash Shiddiq. Ternyata jalan menuju ke pondok sudah penuh dengan kendaraan, bermotor maupun roda empat.


Untuk mencari tempat parkir, budhe dan Bulik mengikuti arahan dari petugas Kokam. Sedangkan aku dan ibu turun dari mobil dan menuju ke tempat pengajian dan peresmian asrama putra.


Acara itu dihadiri oleh ustadz terkenal dan bapak bupati. Ustadz itu menyerahkan Al Quran kepada santri yang indent. 


Dari keterangan yang kudengar tadi sebenarnya masih banyak santri yang tidak bisa datang karena berasal dari seberang pulau.


Meski belum semua hadir, kulihat teman baruku cukup banyak. Aku mengenalinya dari seragam yang ditentukan oleh ustadz-ustadzah.


Santriwan mengenakan pakaian putih, celana hitam panjang dan berpeci hitam. Tentu berkaos kaki dan bersepatu. Lalu santriwati seperti aku mengenakan pakaian putih, rok hitam, jilbab hitam, berkaos kaki dan bersepatu.


Hari ini aku bahagia sekaligus sedih. Itu karena akan mendapatkan teman baru yang banyak. Namun yang membuatku sedih adalah membaca selebaran tentang pondok.


Di selebaran tertulis tahsin bersanad, tahfidz 30 juz, bahasa Arab. Aku cukup kesulitan dengan semua itu.


Ketika di rumah aku nangis. 


"Aku masih kepikiran tahfidz 30 juz," keluhku.


"Yang tertulis di slebaran itu materi pelajaran yang besok kamu pelajari, Za" terang ibuku.


"Lalu bagaimana aku tes untuk masuk pesantren itu?" Lanjutku.


"Sudah. Nggak usah dipikirkan. Sekarang kamu fokus belajar. Tegakkan shalat, mengaji, hafalan surat-surat pendek dulu." Ucap Mbah kung.


Aku masih menangis. 


"Aku nggak bisa Bahasa Arab juga," ucapku tersedu.


"Bisaaaa!!"


"Nanti belajar sama Mbah kung. Dulu Mbah kung itu guru bahasa Arab." Ucap bulikku.

***

Senin ini aku mau tidur di rumah Mbah kung lagi.


"Kamu kenakan jas hujan ibu."


"Iya, Bu"


"Jangan lupa baca iqra, hafalan juga ya!" Begitu pesan ibu saat aku berpamitan ke rumah Mbah kung.




Comments

Popular posts from this blog

Beli Baju dari Uang Tabunganku

Membantu Pithil Kacang Tanah