Membantu Pithil Kacang Tanah


Foto: dokumentasi Zahro

Pagi-pagi aku dibangunkan ibu. Aku masih malas-malasan. Rasanya dingin. 

Ibu kembali memanggil namaku.

"Shalat Subuh dulu, Fa" nasehat ibu untuk kesekian kalinya.

Dengan menahan rasa malas, aku segera menuju kamar mandi. Aku mau mandi, baru nanti shalat Subuh.

Setelah itu aku keluar rumah. Adikku belum bangun tidur karena semalam tidurnya kemalaman. 

**

Aku menuju rumah Mbah Mar untuk bertemu Kekey. Mbah Mar itu adik Mbah utiku. Aku sering ke rumah Mbah Mar. Rumahku dan rumah Mbah Mar hanya berseberangan jalan.

Kalau aku bosan dengan kegiatan di rumah, aku pasti ke sana. Bermain dengan Kekey. Terkadang aku bertengkar dengannya. Tapi itu tidak berlangsung lama.

Dan hari ini, Mbah Mar panen Kacang tanah. Banyak sekali panenannya. Aku membantu pithil kacang. Senang rasanya.

Kalau ibuku tidak ikut membantu karena harus momong adik.

Pithil kacang atau mencabut kacang dari rendeng (pohon kacang tanah) sangat menyenangkan. Ya meski capek duduk.

Aku sampai lupa kalau aku tadi tidak minta izin atau pamit kepada ibu. Nanti sepulang dari rumah Mbah Mar, aku mau minta maaf kepada ibu. Aku janji, lain kali aku akan berpamitan kalau mau ke mana saja.


Comments

Popular posts from this blog

Santriwati Indent di SMP Ash Shiddiq

Beli Baju dari Uang Tabunganku