Menanak Nasi

Ilustrasi: fimela.com


"Ibu, aku lapar," ucapku saat ibu baru saja sampai rumah. Ibu baru saja menjemput dik Raffa dari Gedangan. Sejak bayi, adik memang dititipkan di Gedangan. 


"Ya makan aja, Fa" jawab ibu singkat. Kulihat ibu melepas jaket dan meletakkan tasnya di kamar.


"Kan nggak ada nasi, Bu. Ibu kan belum masak nasi." Protesku.


"Lhooo … kan kamu sudah ibu ajari masak nasi."


Aku tersenyum. Segera aku menuju dapur. Membersihkan panci rice cooker. Lalu mengambil beras yang diletakkan di kursi.


"Berasnya seberapa, Bu?"


Kudengar ibu menjawab pertanyaanku tapi tidak begitu jelas. Aku mengira-ngira saja. Ada gelas penakar beras di bagor beras. Setengah gelas lebih sedikit kumasukkan ke dalam panci rice cooker.


Kucuci beras dengan pelan. Kualirkan air keran pelan. Kubuang air cucian beras. Kucuci dan kubuang lagi air cucian beras itu.


Terakhir aku menambahkan air. Aku ingat, ibu pernah mengajariku, "airnya dua ruas jari telunjuk, biar nasinya nggak keras dan nggak jadi bubur."


Kutakar air. Pas dua ruas jari telunjuk. Lalu panci rice cooker yang isinya pususan beras itu kuletakkan di rice cooker. Kupencet tanda on pada tombol powernya. 


***

"Ibu, aku goreng sosis dan nugget ya! Buat lauk nanti," aku minta izin pada ibu. Ibu sedang menemani adik bermain.


"Goreng saja, Fa. Tapi nanti kalau makan pakai soto juga ya. Biar dapat gizi dan vitamin dari sayurannya."


"Oke, Bu!"


Rasanya tak sabar untuk makan. Kubayangkan makan nasi soto ditambah gorengan sosis. Pasti lezat.

Comments

Popular posts from this blog

Santriwati Indent di SMP Ash Shiddiq

Beli Baju dari Uang Tabunganku

Membantu Pithil Kacang Tanah