Aku Sudah Vaksin Lagi

Foto: dokpri

Tanggal 12 Oktober adalah hari yang kutunggu-tunggu. Bukan karena ulang tahun. Bukan. Tanggal 12 Oktober itu pelaksanaan vaksin sinovac dosis kedua. 

Saking semangatku untuk vaksin, hari Kamis aku sudah pamit kepada Bu Retno, guru kelasku. Dan itu kuceritakan kepada ibu.

Aku benar-benar ingin segera sekolah seperti dua tahun lalu. Belajar di sekolah bersama Bu guru dan teman-teman. Ya meski aku sering diusili teman-teman. 

Kalau aku diganggu, pasti aku teriak. Rasanya tak enak kalau diusili. Makanya aku tidak mau usil, soalnya kalau diusili, pasti aku kesal. Aku tak mau mengganggu mereka.

"Tetapi kenapa mereka terus menggangguku?"

Kalau kata ibu aku harus cuek dan tak peduli kalau diganggu.

"Semakin kamu marah dan teriak, temanmu akan semakin senang dan semangat nganggu kamu," terang ibu.

**

Ah .. akhirnya tanggal 12 tiba. Aku segera bersiap untuk vaksin. Pagi-pagi aku sarapan, mandi dan menunggu ibu.

Rencananya aku akan diantar ibu dan Bulik Izah. Aku senang sekali, mereka memerhatikanku.

Setelah ibu mengantar adik ke Gedangan, ibu menjemputku. Aku berangkat dengan membonceng ibu. 

Sesampai di tempat vaksin, di Balai Kelurahan, sangat ramai. Aku diajak Bulik dan ibu ke tempat pendaftaran. 

Dulu pas vaksin dosis pertama aku mendapat nomor antri 154. Nah kalau yang vaksin kedua nomor antriku 84.

Setelah mendaftar, berat badan, tinggi badan dan lingkar perut diukur. Lalu aku menunggu dipanggil oleh petugas untuk ditensi.

Karena aku masih 12 tahun, aku tak dicek Hb atau gula darah. Aku langsung diantrikan ke dokter yang akan menyuntikkan vaksin. 

Tak berselang lama, namaku disebut. Aku segera menuju kursi dekat pak dokter yang akan menyuntikkan vaksin. 

Ada sedikit rasa takut. Tapi ibu dan bulikku menyemangatiku. Mendampingiku. Rasanya jarum suntik sampai ke tulang. 

**

Menunggu 30 menit adalah waktu yang menjemukan. 

"Rasanya pegal," jawabku saat ibu menanyakan bagaimana dampak vaksin bagiku. Memang rasanya lebih pegal daripada vaksin pertama dulu.

"Ya emang begitu, Za" sahut Bulik. "Bulik dulu juga begitu," lanjut Bulik.

"Dulu pas ibu vaksin bareng pak gurunya ibu. Pak guru juga ngerasain lebih sakit vaksin kedua," cerita ibu.

Ah, nggak apa-apa. InsyaAllah dengan vaksin ini aku akan lebih sehat. 


Comments

Popular posts from this blog

Santriwati Indent di SMP Ash Shiddiq

Beli Baju dari Uang Tabunganku

Membantu Pithil Kacang Tanah